Mengenal Lebih Jauh Virus Corona dan Strategi Mitigasi Dampak

Mengenal Lebih Jauh Virus Corona dan Strategi Mitigasi Dampak

Bogor, beritatani.com – IPB University melalui Direktorat Publikasi Ilmiah dan Informasi Strategis (DPIS) menyelenggarakan kegiatan 10th Strategic Talks dengan tema Mengenal Lebih Jauh Virus Corona dan Strategi Mitigasi Dampak. Tema dari diskusi ini sangat strategis karena meningkatnya kekhawatiran masyarakat tentang ancaman corona virus yang saat ini sedang melanda negara Cina dan negara lainnya. Corona virus merupakan bagian dari zoonosis dan merupakan penyakit pathogen.

Dalam kegiatan tersebut, Dr. drh. Joko Pamungkas (Dosen Fakultas Kedokteran Hewan-IPB, Peneliti Pusat Studi Satwa Primata LPPM-IPB dan Koordinator USAID PREDICT-Indonesisa 2014-2019) mengatakan penyakit infeksi baru mulai bermunculan pada beberapa dekade terakhir, di antaranya adalah yang disebabkan oleh virus Ebola, HIV, virus Nipah, virus Avian Influenza, SARS-CoV, MersCoV, dan belakangan telah mewabah virus Corona dari Wuhan-China: 2019-nCoV. Hampir semua kejadiannya diketahui berjangkit lebih dahulu pada manusia, dan setelah diteliti dan ditelusuri lebih lanjut baru diketahui bahwa wabah tersebut diindikasikan kuat bersumber dari hewan/ satwa liar, bersifat zoonotik, dan lebih dari 70% nya diperankan melalui satwa liar sebagai reservoir atau inang alaminya.

Kerugian dan kematian yang ditimbulkan tentu tidak sedikit. Selain tingginya angka penularan dan korban kematian yang cepat meningkat, segala upaya mitigasi yang dilakukan pada saat wabah sudah berjangkit secara pasti akan sangat besar apabila dinilai dari sudut ekonomi, belum menghitung dampak ke depan tentang menurunnya berbagai kegiatan pada sektor perdagangan, pariwisata, dan banyak hal lain yang terimbas. Ungkap Joko, yang juga Peneliti Pusat Studi Satwa Primata LPPM-IPB.

Peneliti PSSP LPPM-IPB ini juga menyarankan, sudah waktunya pola surveilans yang selama ini dipraktekkan oleh kementerian teknis yang berkaitan dengan kesehatan secara sektoral diubah pendekatannya. Urusan kesehatan harus dilihat secara holistik, ditangani secara bersama oleh kementerian terkait yaitu: Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertanian, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta kementerian lain.

Pendekatan One Health adalah jawaban atas semua situasi dan permasalahan kesehatan yang berlangsung pada saat ini, terutama dalam upaya pengendalian penyakit infeksius. Tidak seharusnya kita menunggu kejadian yang merugikan ini berjangkit pada manusia maupun hewan ternak terlebih dahulu sehingga kerugian menjadi besar. Surveilans sentinel pada satwa liar secara periodik diharapkan akan dapat memantau keberadaan virus-virus yang bersirkulasi yang berpotensi ditularkan ke manusia maupun hewan ternak dari satwa liar sehingga dapat dicegah kejadian spillover dari satwa liar ke manusia atau hewan ternak. Ujar peneliti PSSP yang juga koordinator USAID PREDICT-Indonesisa 2014-2019.

Hal senada juga disampaikan oleh Prof. Dr. drh. Bambang Pontjo Priosoeryanto (Kepala Divisi Patologi FKH dan Peneliti Pusat Studi Biofarmaka Tropika) Dari sisi kesehatan hewan merebaknya kasus 2019-nCoV yang melanda China dan beberapa negara sekiranya menunjukkan bahwa penyebaran penyakit dapat dengan cepat berjalan dan virus penyebab yang berasal dari hewan liar maupun domestic dan kemudian berubah menjadi virus yang lebih ganas dan mampu menginfeksi manusia (zoonosis) jelas mengindikasikan bahwa peran hewan sebagai salah satu factor menjadi hal yang sangat penting. Fakta menunjukkan bahwa 60 persen dari penyakit patogen adalah zoonotik (ditularkan dari hewan) dan 80 persen darinya adalah multi-host. Selain itu, 75 persen dari penyakit-penyakit yang baru muncul berawal dari hewan (zoonotik). Hasil studi menunjukkan bahwa sejak tahun 1940 ditemukan 335 penyakit, di mana 60,3 persen merupakan zoonosis dan 71,8 persen diantaranya berawal dari satwa liar.

Kontak hewan liar dan berbagai spesies hewan dalam satu lokasi yang sangat intens seperti dalam pasar hewan yang sangat beragam menjadi hal yang perlu mendapat perhatian lebih, hal ini didasarkan pada kemungkinan besar akibat eksploitasi alam yang berlebihan sehingga menimbulkan ketidakseimbangan lingkungan. Sebagai akibat terbukanya lahan yang tadinya tidak bersentuhan dengan kehidupan manusia menjadi sangat terbuka sehingga hewan termasuk mikroba yang menginfeksinya maupun mikroba non patogen memiliki kesempatan untuk berubah menjadi mikroba yang sangat pathogen dan dapat menimbulkan penyakit serius pada manusia maupun pada hewan.

Pengembangan berbagai bahan obat baru yang berasal dari kekayaan alam Indonesia yang berupa tanaman obat perlu mendapat perhatian sebagai upaya kemandirian dalam penyediaan obat untuk mencapai kesehatan nasional baik bagi masyarakat maupun bagi kesehatan hewan di Indonesia. Sebagai konsekuensi dari hal itu semua, maka perlunya kerjasama yang lebih erat diantara berbagai profesi tidak saja bidang kesehatan, namun juga semua bidang yang terkait sehingga implementasi One Health dapat berjalan dengan baik dalam upaya menuju dunia yang lebih sehat

Bagaimana Virus Corona dapat menyebabkan kematian? Prof. Dr. dr. Sri Budiarti (Guru Besar Departemen Biologi, FMIPA IPB) mengatakan secara umum pasien meninggal karena adanya komplikasi pneumonial dan pembengkakan pada paru-paru. Respon inflamasi pada saluran pernafasan menjadikan bronkus paru-paru penderita dipenuhi dengan lendir, menjadikan paru-paru bengkak dan penderita sulit bernafas. Dengan kondisi paru paru yang bengkak dan penuh lendir mengakibatkan oksigen tidak bisa didapat dan diedarkan ke seluruh tubuh, sehingga penderita akan lemas dan terjadi kerusakan organ lain.

Pencegahan infeksi corona virus secara umum dapat dilakukan dengan beberapa cara: Menghindari kontak dengan pasien yang terjaingkit, Menghindari kontak dengan binatang liar, termasuk mengkonsumsi daging yang belum matang, Secara rutin mencuci tangan dengan sabun ketika masak, atau melakukan aktivitas lainnya, Membiasakan hidup bersih, dengan mandi secara rutin dan teratur, Menutup mulut dengan tissue atau sapu tangan ketika bersin dan batuk, Menggunakan masker untuk menghindari bersin dan batuk-batuk dari penderita.

Pada orang dengan imunitas baik infeksi virus dapat diatasi dengan sistem pertahanan tubuh. Sistem imun yang baik dapat dikondisikan dengan pola hidup sehat (aktivitas dan istirahat seimbang), makan cukup dengan gizi seimbang. Ujar Sri Budiarti.

Dr. Eva Anggraini (Direktur Publikasi Ilmiah dan Informasi Strategis IPB) mengatakan hasil pemikiran dari berbagai ahli dalam diskusi ini akan dirumuskan menjadi rekomendasi kebijakan yang nantinya akan disampaikan kepada pemerintah sebagai pengambil kebijakan. Rekomendasi kebijakan yang memuat kondisi riset terkini, permasalahan dan tantangan dalam pencegahan, pengendalian, dan pemberantasan zoonosis di Indonesia terutama strategi mitigasi dampak penyebaran Virus Corona.

Privacy Preference Center

%d bloggers like this: