HARI ZOONOSIS SEDUNIA DITENGAH HIMPITAN PANDEMI COVID-19

HARI ZOONOSIS SEDUNIA DITENGAH HIMPITAN PANDEMI COVID-19

M. Chairul Arifin

( Tinjauan Singkat dari Aspek Sosial dan Biodiversitas)

Dunia seolah berhenti berputar. Pandemi Covid-19, telah meluluh lantakkan seluruh sendi-sendi kehidupan tidak saja di ranah publik tetapi juga sampai ke ranah paling privat sekalipun. Saat kita bertemu dengan orang yang kita hormati, atau dengan sahabat kita tidak lagi dapat bersentuhan dengan memeluk atau jabat tangan persahabatan seperti biasanya, melainkan harus menjaga jarak dan bermasker. Entah, sampai kapan ini akan selesai, kita tidak tahu.

Pandemi Covid-19 ini adalah salah satu wabah zoonosis yang menyerang umat manusia di planet ini. Kegaduhan yg dibuatnya mengingatkan kita pada wabah flu Spanyol tahun 1918 yang dikenang umat manusia sebagai wabah flu yang merenggut sampai 50 juta korban mati sia-sia waktu itu. Seratus tahun kemudian memunculkan ulahnya kembali dalam bentuk pandemi Covid-19. Virus influensa jenis ini memang merupakan mahluk kecil dan cerdik dengan berupaya meliuk-liuk menghindari cara manusia mengatasi.

Munculnya Zoonosis

Zoonosis sendiri.timbul bersamaan sejak peradaban manusia dimulai. Sudah sejak proses domestikasi hewan untuk dimanfaatkan oleh manusia. Proses ini pada awalnya belum menampakkan kerusakan sumberdaya alam dan lingkungan karena waktu itu kemampuan daya dukung alam masih mampu dan cepat merestorasi lingkungan yang berubah oleh ulah manusia. Doubling time terjadi secara cepat untuk segera memulihkan ekosistem.

Namun, seiring dengan perkembangan umat manusia dan peradabannya, timbullah kemudian eksploatasi besar- besaran untuk memanfaatkan sumberdaya alam yang terbatas. Terjadilah kompetisi antara pemanfaatan food, feed,fuel dan fertilizer Kompetisi ini telah memunculkan terjadinya revolusi 3 T:yaitu Transportasi, Turisme dan Telekomunkasi yg pesat. Manusia berlomba untuk memanfaatkannya didukung oleh kemajuan tehnologi Revolusi Industri 4.0

Walakin, sumberdaya alam menjadi semakin terbatas. Pemanfaatan lahan menjadi pertanian yang bersifat monokultur dan pemakaian pupuk anorganik semakin meluas dan merajalela. Pemakaian energi yang berbasiskan Fossil terus menerus terjadi. Akhirnya, terjadilah konversi dan degradasi lahan termasuk perambahan hutan untuk usaha-usaha pertanian, jasa dan industri, pemukiman dan infrastruktur.

Secara langsung, kejadian ini berakibat adanya kerusakan lingkungan (hutan) yang berakibat semakin dekatnya manusia dengan flora maupun fauna hutan terutama semakin terbukanya interaksi hewan liar dengan manusia. Manusia melalui perburuan hewan liar dan pemanfaatan hewan liar tersebut, menyebabkan agen penyakit keluar (spill out) dari hutan ke wilayah pemukiman penduduk dan beredar mencari inang manusia. Diperparah lagi dengan timbulnya kerusakan hutan, kebakaran hutan dan alih fungsi hutan maka semakin terbuka pula berbagai spill over agen penyakit asal hutan tersebut. Gajah, harimau, pelanduk dari berbagai plasma nutfah lainnya terpaksa mengungsi dan membuat daerah jelajah yang baru yang ada kalanya memerlukan titik singgung dengan pemukiman manusia. Kelelawar dan burung serta serangga yang tadinya bergantungan dengan tenang di pohon-pohon di hutan kini berpindah dan bermigrasii mencari pohon baru dekat dengan pemukiman penduduk. Beberapa diantaranya mengalami kepunahan karena tidak sempat lagi melanjutkan sikllus reproduksinya di alam. Kalau manusia tetap serakah meng eksploatasi alam maka diyakini akan timbul the emerging disease yang kemudian mewabah. Sejarah telah membuktikan itu.

Berpindahnya agen penyakit dari hutan inilah yang awalnya menimbulkan zoonosis, yang asalnya bisa dari jenis serangga, dan hewan invertebrata dan hewan vertebrata (wild animal)

Kini, manusia sudah dapat membedakan hewan apa yg bersifat carier dan reservoir Zoonosis . Apabila hewan tesebut bersifat carier, artinya agen penyakitnya memerlukan tempat persinggahan pada hewan lain barulah menyebar pada manusia karena interaksi hewan dan manusia. Sedangkan reservoir, adalah di hewan itu sendiri agen penyakit berkembang biak dan dapat menginnfeksi manusia. Kini sudah tercatat 256 macam zoonosis. Pemerintah telah menetapkan paling tidak 15 penyakit Zoonosis menjadi prioritas antara lain Avian Influenza, Rabies , Anthrax, Brucellosis,
Leptospirosis, Japanese _ Encephalitis, Bovine Tuberculosis Salmonellosis, Schistosomiasis,Q- Fever, _Camphylobacteriosis , Trichenellosis, Para Tuberculosis, _Anaplasmosis dan Cysticercosis. Ditilik dari agen penyakitnya maka agen penyakit telah mencakup virus, bakteri dan parasit pada berbagai jenis ternak dan hewan.

Menurut sejarah dunia, terdapat wabah zoonosis yang pernah melanda umat manusia. Semuanya tergolong the new emerging zoonosa diseases yaitu flu babi H1N1 tahun 2009, flu burung H5N1 tahun 2004, SARS tahun 2007,. Ebola tahun 1976, MERS tahun 2012, dan SARS CoV 2 saat ini.

Himpitan Pandemi

Planet bumi kita saat ini sedang sakit. Serbuan mahluk kecil virus yg tidak kasat mata berulah. Ini sebagai indikator bahwa telah terjadi ketidak seimbangan antara alam dan seisi nya. Atau dalam epidemiologi telah terjadi ketidak seimbangan antara agent, host dan enviroment. Ketidak seimbangan ini terutama disebabkan karena ulah manusia yang terlalu berlebihan memanfaatkan sumberdaya alam yang terbatas. Alam “membalas” dengan timbulnya wabah, karena pemanfaatan tersebut telah mengganggu dan merusak jaringan ekosistem dan keanekaragaman hayati mahluk lainnya. Tidak kurang satu juta spesies dimusnahkan kan nya setiap saat tanpa ada upaya untuk memulihkannya.

Dalam budaya Jawa dikenal jagad alit dan jagad ageng yang harus seimbang. Artinya harus ada keseimbangan antara diri kita mikro kosmos dan alam semesta makro kosmos. Apabila dirasa tidak seimbang maka segera adakan ruwatan
. Sering kita dengar adanya ritual ruwatan bumi. Kalau hal ini dianalogikan dengan pandemi sekarang ini, maka memang terjadi ketidak seimbangan antara agent, host dan enviroment dan ruwatan itu identik dengan tindakan kita dengan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Skala Besar dan akhirnya diberlakukannya PSBB darurat saat ini.

Jauh sebelum itu, telah diingatkan oleh Allah SWT, yang dalam firman-Nya pada (QS.55:7-9) menyebutkan :” Dan Allah telah meninggikan langit. Dan dia meletakkan neraca (keseimbangan/keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Tegakkan lah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu”.

Kemudian Allah SWT, telah mengingatkan pula dalam Surah Ar-Ruum (30) ayat 41 :
“Telah tampak kerusakan didarat dan dilaut karena perbuatan tangan manusia. Supaya Allah mengingatkan kepada mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”

Dalam saat-saat himpitan pandemi ini maka ada baiknya kita meresapi nilai-nilai yang terkandung dalam Al Qur’an tersebut, betapa Islam telah sangat memuliakan alam dan kita manusia diingatkan agar selalu menjaga neraca keseimbangan alam.

Jadi pelaksanaan Hari Zoonosis Sedunia, marilah kita jadikan momentum untuk saling mengingatkan diantara kita ( terutama saya sendiri) untuk merawat alam seisinya dengan baik . Sudahkah kita menebang pohon dan menggantinya dengan menanam pohon yang baru ? Atau meranbah hutan dengan tindakan reboisasi dan penghijauan untuk memulihkan hutan yg kita telah rambah itu ?

Akhirnya, melalui momentum Hari Zoonosis Sedunia, 6 Juni 2021 ini mari kita tetap menjaga prokes 5 M, agar virus yg mahluk kecil ini tidak masuk dalam saluran pernafasan kita.

Depok, saat PSBB Darurat
M. Chairul Arifin