Pemerhati Pertanian Duga Telur Over Produksi, Harga Jatuh

Jakarta, beritatani.com – Pemerhati dan Praktisi Pertanian, Pieter Tangka menilai jatuhnya harga telur di pasaran akibat adanya over produksi, selain juga Stok berlimpah ini terjadi akibat jumlah ayam petelur yang juga meningkat.

“Jangan- jangan, ayam petelur bertambah banyak karena ada peternak baru yang pelihara ayam dengan jumlah yang banyak, jangan- jangan, peternak baru ini memiliki modal yang kuat, punya silo dan dryer, bahkan produksi pakan dan DOC sendiri,”ungkap Pieter.

Tidak hanya itu Pieter juga menduga munculnya peternak baru saat ini memborong hasil produksi jagung, dikarenakan para peternak mempunyai gudang dan silo dryer yang cukup. Akibatnya harga jagung naik dan tidak terjangkau oleh peternak mandiri.

“Jangan- jangan, peternak lokal mandiri, kurang modal, tak punya gudang, dan tak punya stock jagung, jangan- jangan, ini bagian dari skenario untuk mematikan peternak lokal mandiri,” sambungnya.

Diketahui, jebloknya harga telur tidak dapat dihindari karena daya beli masyarakat juga turun akibat PPKM di berbagai daerah. Apalagi, industri hotel, restoran, dan kafe alias horeka yang cukup banyak menyerap telur ikut menahan pesanannya. Hal ini membuat pasokan telur berlebih di tengah masyarakat.

“Ini sekedar analisa membaca situasi. Yang terpenting harga telur dan peternak perlu dikawal bersama,”tutup Pieter.