RABIES ZOONOSIS YANG TERABAIKAN

M. Chairul Arifin

Tanggal 28 September dipilih sebagai Hari Rabies Dunia atau World Rabies Day, WRD setiap tahunnya untuk memperingati Louis Pasteur yg wafat 28 September 1884. Louis Pasteur adalah penemu vaksin Rabies dan Anthrax yg terkenal sehingga mampu menyelamatkan umat manusia dari penyakit Rabies yg mematikan. Di Indonesia namanya diabadikan nama jalan di kota Bandung dan nama sebuah lembaga pembuat vaksin terkenal di kota yg sama.

Rabies di Indonesia pertama kali justru diketemukan pada seekor kuda di Bekasi oleh Dokter Hewan Belanda yaitu Schrool pada tahun 1884. Lima tahun kemudian (1889) barulah Esser V. J dan Penning menemukan Rabies pada anjing. Pada manusia di Indonesia baru diketahui di tahun 1894, oleh dokter EV De Haan sepuluh tahun sesudah Rabies diketahui pada anjing.

Sehingga mulai saat itu, Rabies menjadi daftar khasanah penyakit zoonosa di Indonesia. Sudah hampir 136 tahun penyakit ini belum dapat dihilangkan dari muka bumi Indonesian dan cenderung menjadi endemik yg sekali kali dapat menjadi KLB di beberapa daerah dan propinsi

Emerging dan Re- emerging Diseases

Diseluruh dunia hampir 60.000 orang meninggal karena Rabies setiap tahunnya. Ini menunjukkan bahwa umat manusia belum bisa menundukkan virus ini sepenuhnya dari muka bumi. Secara global Rabies menimbulkan beban ekonomi sebesar 8,6 miliar dollar AS atau hampir Rp.129 triliun setiap tahunnya karena kematian, biaya perawatan rumah sakit, beaya obat termasuk penyediaan vaksin, tidak bisa bekerja dan biaya² pengendalian dan pemberantasan setiap tahunnya.

Di Indonesia penyakit yg menyerang susunan syaraf pusat ini terjadi pada 26 propinsi dari 34 propinsi. Praktis hanya 8 provinsi yg bebas Rabies yaitu Kepulauan Riau, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Papua. Pulau² yg bebas Rabies antara lain pulau Weh di Aceh, pulau Meranti di Riau, pulau Sebatik di Kaltara dan Makalahi di Sulawesi Utara.

Baca Juga: Hari Rabies Sedunia 2020: “Edukasi Webinar Drama Anak – Aku dan Hewan Kesayanganku Bebas Rabies”

Baca Juga: Kementan Dorong Penetapan Dan Pelepasan Galur Ternak

Data dari Kementrian Kesehatan menunjukkan bahwa kasus gigitan anjing pada manusia cenderung meningkat. Menurut Direktur Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes Drh. Didik Budiyanto, setiap tahunnya 80.861 kasus gigitan dengan 105 kasus kematian. Sedangkan wilayah tertular baru seperti data yg dirilis dari Ditjen PKH Kementan adalah Bali (2008), Nias (2010), pulau Karat kabupaten Maluku Tenggara Barat serta pulau Kisar dan Daweloor kabupaten Maluku Barat Daya (2012). Re-emerging Rabies terjadi didaerah yg sudah dinyatakan bebas tapi muncul kembali seperti di Kalimantan Barat (2014) dan Nusa Tenggara Barat (2019). Penyakit ini dapat memutus mata rantai penularannya pada manusia kalau 70% hewan penular Rabies seperti anjing dan kucing telah di vaksin.

Menurut buku Master Plan Nasional Pemberantasan Rabies di Indonesia(Ditjen PKH-FAO-USAID-WAP) terbitan tahun 2019 ada dua pendekatan dalam pemberantasan Rabies yaitu pertama, dengan pendekatan Zona berdasarkan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan dan yg kedua, dikombinasikan dengan pendekatan tahapan yg mengadopsi _Stepwise Approach toward Rabies Elimination (SARE)

Baca Juga: Nuryanti Dorong Pengembangan Buah Naga dan jambu Crystal di Kab. Bima Menjadi Produk Olahan

Baca Juga: Peringati Hari Tani Nasional, Akademisi UI: Program Kementan Sejalan Dengan Visi Presiden Jokowi

Pentingnya masyarakat sebagai Subyek

Sampai detik ini Rabies belum dapat ditangani dengan tuntas. Malahan WHO mengatakannya sebagai penyakit Tropis yang terabaikan ( Negliable Tropical Disease) di 150 negara, karena minimnya data yg diperoleh. Terjadi sedikit kerancuan tentang pengertian pemberantasannya. Semula pemberantasannya itu sepenuhnya menjadi tugas pemerintah, padahal hewan anjing, kucing dan kera itu sepenuhnya dalam genggaman masyarakat. Karenanya, melibatkan masyarakat sebagai subyek pemberantasan itu merupakan suatu keniscayaan. Melibatkan masyarakat adalah kata kunci keberhasilan, karena tanpa masyarakat ikut merasa bertanggung jawab maka sangat tidak mungkin terselesaikan. Dari sejak penulis bekerja di Direktorat Kesehatan Hewan Ditjen Peternakan di tahun 1980 upaya memberantas Rabies ini selalu digaungkan. Waktu itu ditargetkan tahun 2000 Indonesia akan bebas. Target mundur tahun 2005, mundur lagi tahun 2010, 2015 dan pernah bersama negara² Asean ingin membebaskannya 2020 sebagai kawasan yang bebas Rabies. Semuanya kandas belum berhasil

Saat ini Indonesia berusaha bangkit lagi dan mentarget ulang bahwa nanti di tahun 2030 akan menjadikan bebas Rabies dengan kolaborasi. Tema tahun ini adalah Akhiri Rabies dengan Kolaborasi, Vaksinasi suatu tema yg menarik yang dapat menjadikan masyarakat sebagai subyek dan kolaborator utama pemberantasan Rabies.

Nantinya, masyarakat sendiri yg mampu mengatasinya, pemerintah hanya berlaku sebagai fasilitator saja. Nanti dapat dibayangkan akan terbentuk kader² masyarakat yg dengan sendirinya secara suka rela menangani dan memberantas Rabies. Sudah 136 tahun kita berperang melawan virus ini dan hidup berdampingan dengannya. Sesuai dengan Tujuan Tema yaitu untuk meningkatkan kesadaran pencegahan Rabies dan menyoroti kemajuan dalam mengatasi penyakit klassik yg mengerikan ini yg menyerang umat manusia, homo Sapiens sejak abad ke 2 Sebelum Masehi di Lembah Mesopotamia. Sampai kini termasuk di Indonesia belum dapat memberantasnya. Semoga Louis Pasteur berbahagia dialam sana, karena tanggal wafatnya dijadikan Hari Rabies Sedunia.

Baca Juga: Nuryanti Dorong Munculnya Industri Kerajinan Kulit di Kabupaten Bima

Baca Juga: Kuatkan Mutu Pendidikan Petanian, Polbangtan Manokwari Rampungkan Proses Akreditasi

 

Depok, 28 September 2020
M. Chairul Arifin