BALAI KARANTINA PERTANIAN BANJARMASIN IDENTIFIKASI DESA PENGHASIL KOPI SEBAGAI 1OOO DESA MENDUKUNG GRATIEKS

beritatani.com – Jumat (18/09) Kepala Balai Karantina Pertanian Banjarmasin drh. Nur Hartanto bersama staf serta didukung Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Selatan drh. Suparni, MS merlakukan kunjungan ke Kec. Aranio, Kab. Banjar, Prov. Kalimantan Selatan untuk mengetahui potensi desa tersebut sebagai penghasil bii kopi.

Perjalanan hampir 2,5 jam kami tempuh dari Kota Banjarmasin menuju desa Rantau Bujur, Kec. Aranio, Kab. Banjar, Kalimantan Selatan. Lokasi desa yang berbatasan dengan Taman Hutan Raya Sultan Adam memang masih begitu asri, dalam perjalanan kami disuguhi panorama hutan sekunder yang diselingi kebun karet yang merupakan deretan pegunungan Meratus. Setelah sampai di lokasi pertanaman kopi, kami ada rasa heran dari kebun kopi yang ada di Kec. Aranio ini. Kebun kopi di sini tidak dibudidayakan dalam hamparan yang monokultur, tetapi tanaman kopi berada di sela-sela tanaman jenis lain yang lebih tinggi, ada yang berada di sela tanaman buah-buahan, di sela-sela tanaman karet bahkan ada yang berada di sela-sela pohon singkong. Kesan kurang terawat memang ada, tetapi kalau kita menyimak perbincangan dengan salah satu penggiat biji kopi yaitu bapak Dwi, kami menjadi tertarik.

Baca Juga: Akreditasi Polbangtan Manokwari bagian dari Transformasi Model BPP Kostratani

Baca Juga: Sinergi Kementan dan Kemdes dalam Penguatan Model BPP Kostratani Papua Barat

Informasi dari bapak Dwi, bahwa tanaman kopi yang ada di Kec. Aranio ini merupakan peninggalan jamam penjajahan Belanda, dari pohon peninggalan tersebut petani melakukan perbanyakan secara generative dan sebagian stek batang/cabang untuk ditanaman di kebun yang lain. Dalam bincang-bincang bapak Dwi mengatakan bahwa, “Di sini pohon kopi peninggalan jaman Belanda masih tetap tumbuh, bahkan masih bisa menghasilkan biji kopi yang dikonsumsi oleh masyarakat setempat. Tanaman kopi di sini kualitasnya bagus dengan aroma yang khas lyberica, karena petani tidak menggunakan bahan kimia dalam proses agronominya”. “Petani masih tradisional dalam membudidayakan tanaman kopi, sentuhan teknologi belum ada, sehingga ini perlu masukan energy teknik budidaya yang lebih intensif lagi “, begitu bapak Dwi menceritakan kondisi yang ada.

Terlepas dari kekurangan yang ada, drh. Nur Hartanto, MM sangat antusias untuk bisa menjadikan desa tersebut sebagai salah satu desa mendukung GRATIEKS. Hal tersebut tidak berlebihan, karena menyimak dari semangat petani dan para penggiat tanaman kopi setempat, produksi dan teknik budidayanya dapat ditingkatkan. Semoga dengan Program GRATIEKS kopi Borneo dapat dikenal masyarakat di luar.

Baca Juga: Potensi Tanaman Sorgum Sebagai Sumber Pangan, Pakan dan Bioenergi

Baca Juga: Mentan Syahrul Dorong Pengembangan Ternak Sapi Unggul

 

Privacy Preference Center