KALKULASI LOGIS PENGGEMUKAN SAPI

KALKULASI LOGIS PENGGEMUKAN SAPI

Wayan Supadno (Pak Tani)

Dalam dunia agribisnis, tiap kali saya investasi yang jadi pertimbangan menurut skala prioritas adalah ;

1. Marketbale (mudah dipasarkan dan dihargai pantas wajar).

2. Agroklimat (sesuai karakter klimatologi termasuk sosial budaya masyarakatnya).

3. Feasible (layak dalam perhitungan neraca dan laba rugi keuangan).

4. Low risk (rendah resiko baik keuangan, alam maupun ancaman sosial).

5. Bankable (layak didanai perbankan sekalipun belum tentu didanai pihak lain saat ekspansi sebagai kontrol kepantasan usaha).

Begitu juga dalam usaha peternakan sapi terintegrasi dengan kebun. Kali ini fokus pada peternakan sapi yang saya jalani. Sudah mencapai titik optimum harapan, sekalipun belum maksimum nilai laba dan manfaatmya.

Setidaknya telah bisa mengubah yang selama ini jadi beban penyerta karena dianggap limbah jadi bermanfaat nyata penambah laba karena diberdayakan sebagaimana mestinya. Integrasi terpadu mandiri.

Baca Juga: Mentan Syahrul Dorong Sulsel Jadi Lokomotif Ternak Sapi Kerbau Nasional

Baca Juga: Kementan Upayakan Langkah Stabilisasi Perunggasan Nasional

Beban limbah peternakan feses dan urine jadi pupuk di kebun yang gratis mengurangi biaya penyerta produksi dan mengubah rumput gulma/limbah pertanian jadi sumber pakan sapi bermutu tinggi yang gratis pula. ” Double free ” inilah esensi tujuannya.

Akhirnya jadi kontributor penekan harga pokok produksi (HPP) agar makin kompetitif lagi. Yang tujuannya agar bisa bersaing harga jual, tetap dapat laba sehat sehingga bisa lestari bermanfaat nyata buat masyarakat.

Empiris, penggemukan sapi Limosin/Simental.
Dalam setahun tumbuh kembang bobot sapi (ADG) 1,4 kg/hari maka setara dapat penambahan bobit sapi hidup 500 kg/350 hari setahun.

Jika modal awal belanja bakalan 400 kg/ekor x Rp 55.000/kg = Rp 22 juta/ekor. Maka omset yang didapat (400 kg + 500 kg =900 kg) x Rp 55.000/kg = Rp 50 jutaan/ekor pada lebaran Idul Adha.

Laba yang didapat selain dari pupuk, dapat juga dari penambahan bobotnya. Jika biaya produksi Rp 25.000/hari, jika ADG 1,4 kg/hari, jika harga Rp 55.000/kg hidup setara omset Rp 77.000/hari. Maka setara dapat laba Rp 77.000 – Rp 25.000 = Rp 52.000/hari atau Rp 18 juta/tahun.

Baca Juga: Kementan Bekerjasama dengan Unud Bali Dukung Sikomandan

Baca Juga: Hati dan Telinga Bang Jo bersama Petani Garam Bima

Pertanyaan agar harga pokok produksi (HPP) rendah laba besar ;

1. Bagaimana agar harga pokok bakalan sapi murah ?
Jika bakalan mahal, maka memelihara indukan sendiri utamanya yang super.

2. Bagaimana agar pakan murah ?
Maka memakai bahan limbah pertanian dan pabrik dengan kontrol mutu ketat.

3. Bagaimana agar nilai jualnya mahal ?
Maka ruas hiir juga dikelola misal bukan jual sapi hidup, tapi misal wujudnya jadi sosis, abon maupun pentol bakso.

Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani

Lokasi Usaha:
1. Banyuwangi Jawa Timur
2. Pangkalan BUN Kalimantan Tengah

Baca Juga: Pemprov NTB Buat E-Kinerja Lebih Mantap

Baca Juga: Mentan Tanam dan Panen Porang di Sidrap

 

Privacy Preference Center

%d bloggers like this: