Pakar: Stok Pangan Cukup, Pemerintah Harus Pastikan Distribusinya Lancar

Pakar: Stok Pangan Cukup, Pemerintah Harus Pastikan Distribusinya Lancar

beritatani.com – Prof Muhammad Firdaus meminta publik tidak salah dalam menerjemahkan pernyataan Presiden Jokowi tentang neraca surplus-minus pangan.

Guru Besar Ilmu Ekonomi IPB, Prof Muhammad Firdaus meminta publik tidak salah dalam menerjemahkan pernyataan Presiden Jokowi tentang neraca surplus-minus pangan. Firdaus menegaskan bahwa kondisi ketersediaan pangan pokok nasional secara kumulatif mencukupi, meskipun belum merata sebarannya.  “Surplus- defisit dalam sistem penyediaan pangan antar-wilayah itu sudah menjadi hal yang biasa terjadi, bahkan di negara maju seperti Amerika Serikat sekalipun. Apalagi kita negara kepulauan terbesar di dunia, tidak mungkin produksi merata sama di seluruh wilayah. Sistem distribusinya yang perlu ditata lebih baik,”ujar Firdaus pada acara “Pangan Talk: Ketahanan Pangan dan Peran Teknologi Pertanian di Masa Pandemi” yang dihelat Kelompok Studi Pangan Institute melalui Video Conference di Jakarta (3/5).

Baca Juga: Pakar Agroklimat, Potensi Panen Padi Mei, Juni, Juli Bagus

Baca Juga: Tenaga Pendidik BPPSDMP Kementan dimata Generasi Tani Milenial

Dalam diskusi yang diikuti para pakar, praktisi dan pengamat pertanian tersebut Firdaus menandaskan bahwa wilayah punya keunggulan dan kapasitas produksi masing-masing. Yang terpenting menurutnya secara agregat nasional ketersediaannya harus mencukupi.  Menurutnya, sistem distribusi perlu ditata untuk mengurangi disparitas harga antar-wilayah. “Kita sangat mengapresiasi upaya pemerintah dalam menata sistem distribusi pangan kita. Contohnya di Kementerian Pertanian sudah merintis kerjasama dengan beberapa start-up untuk kerjasama distribusi pangan. Data stok terkini dan prediksi ketersediaan pangan sekian bulan ke depan juga sudah dibuat sangat lengkap. Ini bagus dan perlu diketahui publik, supaya masyarakat lebih tenang,” katanya.  Data pergerakan harga pangan harian menurutnya juga penting untuk terus dipantau dan diinformasikan ke publik sebagai panduan masyarakat luas termasuk petani. “Ini menjadi salah satu cara menekan disparitas harga petani dengan konsumen. Pernah saya cek langsung petani di pelosok Boyolali, ternyata mereka update soal harga di pasar induk dan pasar-pasar besar. Ini luar biasa,” kata profesor muda IPB tersebut.

Baca Juga: Harga ayam Rp. 770 ribu per ekor, ini penjelasan Dirjen PKH

Baca Juga: JTF Bagikan Masker, Masker Medis, APD dan Hand Sanitizer Masing-Masing 1.000 pcs di Kepulauan Seribu

Halaman Berikutnya…

 

Privacy Preference Center

%d bloggers like this: