Putra Daerah Tambrauw Papua Barat, Bangun Desanya Lewat Pertanian

Manokwari, beritatani.com – Selasa, 5 Mei 2020 – YORDASN EVAN SEDIK, dari Pedalaman Tambrauw. Jordan begitu ia kerap disapa, menceritakan zaman dahulu kala di pedalaman Tambrauw (Karon/Miyah) saat itu masyarakat masih tinggal di hutan. Dengan budaya dan adat yang identik dengan saling bunuh mambunuh.

Kini, dibeberapa tempat mulai didatangkan guru penginjil untuk mengajar dan membimbing masyarakat, seperti di Tintum yang sekarang berpindah ke Senopi menjadi Paroki Santo Yosep Senopi yang awalnya hanya kampung kini dimekarkan jadi Distrik Senopi yang awalnya Ibukota Distrik di Kebar/Anjai.

Baca Juga: Bupati Manokwari Selatan Borong Semua Padi Petani Mileneal

Baca Juga: Pakar: Stok Pangan Cukup, Pemerintah Harus Pastikan Distribusinya Lancar

Meski sudah menjadi modern, budaya atau adat yang tidak dilepaskan. Perkawinan misalnya, masyarakat disana memperbolehkan untuk kawin silang. Perkawainan dapat tidak terlalu mengikat oleh adat atau budaya, yang diharapkan hanya kemampuan untuk menjamin keluarga membayar maskawin dan mengunakan pakaian adat yang masih digunakan sebagian harta warisan moyang hingga kini.

Pakaian adat tersebut cawat, yang digunakan sehari-hari. Namun perlahan diubah kini hanya mengunakan pakaian seperti masyarakat nusantara pada umumnya. Hal yang tak terusik oleh zaman yaitu kudapan. Sagu, kasbi/singkong, dan pisang pun sudah ada sejak zaman adam dan hawa. Dari cerita rakyat (dongeng) sudah disampaikan adanya makanan khas tersebut dan kini masih menjadi makanan pokok mereka.

Baca Juga: Pakar Agroklimat, Potensi Panen Padi Mei, Juni, Juli Bagus

Baca Juga: Tenaga Pendidik BPPSDMP Kementan dimata Generasi Tani Milenial

Halaman Berikutnya…

 

Privacy Preference Center